Di era digital 2019 ini, tren berwisata atau traveling terus meningkat sepanjang tahun. Ternyata para traveler milenial yang saat ini berusia 18-35 tahun atau lebih populer dengan nama generasi Y, berlibur bukan hanya untuk refreshing melainkan mencari ide-ide baru. Terlebih yang berhubungan untuk aktivitas atau kegiatan profesi mereka maupun sekedar mencari wawasan dan pengetahuan baru. Lalu ide-ide baru itu akan dikembangkan dan diaplikasikan di bidang usahanya dan menghasilkan kreativitas baru. Jadi valuenya bukan hanya sekedar melepas penat dan ‘narsis’ sana-sini seperti kebanyakan remaja jaman sekarang.

Kata ‘narsis’ selama traveling ini dapat diartikan dengan mengambil foto selfie dan/atau wefie di setiap aktivitas yang dilakukan selama traveling. Di era serba digital dan era sekarang atau populer dengan sebutan ‘jaman now’, kegiatan ‘narsis’ adalah normal adanya. Terkadang dengan adanya kegiatan ‘narsis’ yang dilakukan para traveler milenial ini, sangatlah berguna dalam mempromosikan destinasi wisata yang mereka kunjungi dan juga sangat menguntungkan untuk membangun pariwisata terutama tempat wisata yang masih sedikit dijamah oleh masyarakat.
Namun yang perlu diingat dan diperhatikan dari berwisata atau traveling ala milenial adalah jangan sampai esensi berwisata ini digantikan dengan melakukan aktivitas narsis. Karena penting adanya untuk menikmati produk pariwisata dan atraksi yang disuguhkan dalam melakukan destinasi wisata. Sehingga lebih memahami dan mengenal budaya destinasi wisata yang dikunjungi.
Dalam hal traveling, para milenial memilih hal yang praktis dan mudah dilakukan. Dimulai dari pemilihan tujuan wisata, tiket pesawat, hotel atau tempat tinggal, akomodasi dan lainnya dipilih dengan efektif dan efisien supaya tidak menghabiskan banyak waktu dan pikiran. Karena masyarakat milenial atau anak jaman now yang populer dengan sebutan ‘kid jaman now’ lebih menyukai hal-hal yang simple dan tidak menghabiskan waktu serta tenaga mereka.

Karakteristik wisatawan milenial diberbagai regional bisa berbeda-beda. Misalnya milenial Amerika punya moto ‘work hard play hard’, dimana mereka menyukai traveling jarak jauh atau long destination, dengan pengeluaran yang besar. Sementara wisatawan China juga terbilang high spender dan suka berbelanja, berwisata dengan mengambil tour package atau paket tur yang disediakan dan mencari destinasi populer.
Lantas, bagaimana dengan milenial Indonesia? Karakter milenial Indonesia yakni impulsive holidays. Hari kejepit penting dan sering dimanfaatkan untuk berwisata. Selain itu mereka memperhitungkan biaya dan budget travel. Dalam perkembangannya, saat berwisata tak jarang mereka menawarkan jasa titipan atau jastip pada media sosial mereka. Ini dikarenakan gaya hidup milenial Indonesia sudah berubah banyak dan juga terbesit ide atau pikiran bisnis mereka untuk memperoleh uang selagi menikmati destinasi wisata favoritnya.
Berbagai proses yang dilakukan sebelum mereka traveling yaitu, mereka sering melihat ulasan sebuah tempat/ destinasi wisata dari video, V-LOG di Youtube. Dimana sekarang sudah tidak sedikitnya youtuber yang menyajikan V-LOG review destinasi wisata, dan ini menjadi tontonan keseharian masyarakat untuk ditonton, sehingga menjadi makanan sehari-hari ‘kid jaman now’. Karena para youtuber tersebut sudah terlebih dulu melakukan traveling dan memiliki pengalaman otentik selama berwisata di destinasi wisata tersebut. Para milenial akan melihat review, komen, postingan di media sosial seperti Youtube, Instagram, Facebook, dan lain-lain untuk menentukan tempat destinasi wisata yang akan dikunjunginya.

Setelah mereka menentukan tujuan destinasi wisatanya. Masyarakat era milenial akan menggunakan fasilitas media online yang tersedia pada gadget mereka untuk memikirkan pilihan transportasi, akomodasi serta mendapatkan tiket untuk menuju destinasi wisata tersebut. Mereka lebih suka menggunakan jasa destinasi wisata yang berbasis aplikasi, bukan lagi konvensional. Banyak fasilitas travel di media sosial yang tersedia seperti Traveloka, PegiPegi, Tiket.com, Airy Rooms, Nusa Trip, yang populer dikalangan masyarakat dan banyak dipergunakan.

Dengan adanya kemajuan dan perkembangan teknologi di era milenial ini, pelaku bisnis pariwisata perlu mengantisipasi dengan perubahan ini. Perubahan ini menjadi salah satu tantangan besar bagi pelaku bisnis pariwisata di Tanah Air untuk segera menyesuaikan bisnis model sesuai dengan market segment. Jika hal ini tidak secepatnya dilakukan maka jelas pelaku bisnis akan tertinggal apalagi saat ini era digital, dimana semua dilakukan secara digital yang butuh kecepatan, kelengkapan data dan informasi, praktis, efektif, dan efisien.
Di era digital ini, kaum milenial sebagai pemeran utama dalam menggunakan teknologi dan mengakses informasi di dunia maya. Bahkan kaum generasi Y ini, mudah terlihat kegemaran mereka berwisata, traveling, suka berpetualang dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Minimnya pengalaman tidak mengurungkan niat kaum milenial untuk mengeksplor hal-hal baru yang ingin dikenal dan diketahuinya. Ini yang membedakan generasi sebelumnya yang sudah berpengalaman dan lebih menyukai aktivitas rutinitas yang sudah jelas.